Supri dan Kolor Ajaib Part 16

Kabut tebal menutupi permukaan sungai dan sekeliling hutan Camp pertama.

Air sungai berwarna kecoklatan mengalir tenang, tanpa membuat kapal-kapal yang sedang sandar di dermaga jadi bergoyang.

Supri menikmati suasana pagi itu dari atap kapal sambil menyeruput kopinya yang masih mendidih. Setiap seruput bibirnya melepuh, lalu dilap dengan kolor. Sembuh lagi. Seruput lagi. Melepuh lagi. Sembuh lagi. Begitu seterusnya.

Sakit jiwa.

Hendrikus yang sudah bangun datang menghampiri Supri.

“Boleh join?”
“Tentu saja,” jawab Supri mempersilakan Hendrikus jongkok di sampingnya.

“Jadi, bagaimana kabar kapten?” tanya Supri membuka pembicaraan.
“Sudah pulih kok. Hanya masih shock saja.”
“Oh syukurlah. Aneh ya, tiba-tiba berdarah gitu..”
“Memang. Tapi sebenarnya kejadian aneh begitu sering loh, cuma kita aja yang kurang informasi.”

Supri mengangguk tanpa suara, memandang Hendrikus dengan tatapan yeah-right.

“Aku jadi ingat kejadian beberapa tahun lalu di kampungku,” kata Hendrikus.
“Kejadian apa?”
“Yah gitu lah, orang mati tapi tak wajar. Yang kepalanya meledak lah, yang gantung diri sambil tersenyum lah, sampe yang dada terbelah terus di dalam dadanya ada foto Vina Panduwinata sedang tersenyum!”
“Heh?”
“Iya. Dulu itu di kampung aku ada seseorang yang dicurigai sebagai pelaku semua kematian-kematian itu. Menyebut namanya saja orang gentar. Takut didengar terus didatangin.”
“Semacam Lord Voldemort?”
“Lebih ngeri bang.” Mimik Hendrikus berubah serius. Dia menatap mata Supri dalam-dalam, lalu berkata, “Orang ini ditakuti warga karena konon katanya dia bisa membunuh lewat mimpi.”
“Membunuh lewat mimpi?”
“Iya. Korbannya suka ditanyai, Anda punya mimpi? Nah, yang menjawab tidak punya, dibunuh saat itu juga.”
“Terus yang punya mimpi?”
“Diajak gabung MLM jadi downline dia. Kalo tidak mau, dibunuh juga. Sama aja bohong kan ya? Hidup jadi menderita, tiap hari disuruh ikut presentasi. Akhirnya pada bunuh diri karena tak kuat mental.”
“Sadis.”
“Indeed.”
“Siapa namanya?”

Hendrikus melihat ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada yang mendengar saat dia menyebut nama keramat itu.

“Namanya…”
“Ya?” Supri makin penasaran.
“Namanya adalah…”
“Adalah..?”
Namanya adalah… Kyaaaa aku takut nyebutnya!”
“SMS aja kalo gitu.”
“Iya SMS aja ya.”
“Iya.”
“Bentar.”

Handphone Supri berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Hendrikus. Supri membukanya. Di sana tertulis sebuah nama yang menggetarkan jiwa, bahkan Supri merasakan jantungnya langsung berdebar kencang.

“NAMANYA ADALAH PAK REMAN.”

 

[Bersambung]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s