Supri dan Kolor Ajaib Part 15

Dengan sekuat tenaga Hendrikus yang datang belakangan mendobrak pintu ruang kemudi.

BRAKKK!!!

Pintu hancur berantakan. Hendrikus masuk lebih dulu, lalu meraba denyut nadi pergelangan tangan Kapten.

“Nihil! Tidak ada denyut nadi!”

Semua orang semakin panik. Hendrikus memeriksa seluruh bagian tubuh Kapten untuk mencari tahu penyebab kematiannya.

“Tidak ada luka sama sekali! Semua darah keluar dari mulutnya. Sepertinya, ini gara-gara sakit maag!”

Supri dan semua yang ada di situ terperanjat.

“Tapi.. Kapten makannya teratur, masak sakit maag?” kata Juru Masak yang sudah siuman setelah dibekap dengan kolor ajaib Supri secara diam-diam.

“Sakit maag bukan cuma disebabkan pola makan, tapi juga takdir.”

Semua mengiyakan dalam hati. Supri yang sejak tadi belum bereaksi mendekati tubuh yang penuh darah itu. Dia masih belum yakin Kapten sudah meninggal. Supri meraba leher kanan Kapten.

“Eh ini masih ada denyut nadinya, tapi lemah!”

Hendrikus dan semua yang ada di situ terperanjat.

Dari dalam saku celananya Supri mengeluarkan sebuah kolor berwarna merah menyala. Orang-orang mulai penasaran, apa yang akan dilakukan Supri dengan kolornya.

“Semuanya, saya akan mencoba menyelamatkan nyawa Kapten. Tapi saya mohon kalian berjanji dua hal terlebih dahulu. Percayalah, Kapten masih bisa diselamatkan asal kalian memenuhi syarat yang akan saya ajukan.”

Orang-orang berpandang-pandangan. Bingung.

“Kalo kalian kelamaan mikir, nyawa Kapten tidak akan tertolong.”

“Baiklah! Saya pribadi berjanji, meskipun saya masih belum tahu bagaimana caranya Kapten bisa hidup lagi.” Hendrikus memecah kebuntuan, lalu melempar pandangannya ke kerumunan ABK. “Yang lain bagaimana?”

“Boleh deh.”
“Okay.”
“Iya, boleh, janji.”
“Janji.”
“Apa syaratnya?”
“Jangan minta uang ya.”
“Eh minta uang gak apa-apa kali, daripada Kapten meninggal? Nanti kita semua jadi pengangguran.”
“Tapi kita kan belum gajian?”
“Kalo dia minta berjuta-juta gimana?”
“Iya juga ya..”
“Iya..”
“Nanti kita malah punya utang gara-gara Kapten.”
“Betul, nanti malah jadi beban.”
“Nanti gak bisa ngelunasin.”
“Mana cicilan banyak pulak.”
“Aduh iya, kredit motor saja belum lunas.”
“Apa kata istriku nanti kalo pulang bawa utang?”
“Gak ikhlas juga sih..”
“Mending biarin aja dia mati.”
“Dia gak pernah ngasih bonus juga.”
“Sudah dua tahun gaji kita belum naik.”
“Mana Kapten suka marah-marah.”

“HOI HOI! JADI GIMANA INI?” Supri mulai kehilangan kesabarannya. “Kalian mau dia tetap dipanggil Kapten atau dipanggil Tuhan??”

“Gak tega sih..”
“Iya gak tega..”
“Hmmm…”
“Ya sudah, kami janji!”

“Janji?” tanya Supri sekali lagi.

“IYAAA.” Serempak, mereka menjawab tanpa ragu.

“Baik. Syarat yang pertama, apa yang akan kalian lihat ini harus kalian rahasiakan. Jangan bilang ke siapa pun juga, mau itu keluarga, teman, istri, suami, anak, bahkan binatang pelharaan, pokoknya jangan! Ini harus jadi rahasia kalian. Siapa pun tidak boleh tahu. Okay?”

Wah syarat pertama ternyata mudah saja, pikir orang-orang. “Okay!”

“Syarat kedua akan saya kasih tahu sebentar lagi.”

Kampret, dia pikir dia Daniel Mananta, suka bikin orang penasaran. “Okay, ayo sembuhkan Kapten.”

Supri memakaikan kolor ajaibnya di kepala Kapten. Hendrikus menyaksikan kejadian itu tanpa berkedip. Juru Masak terheran-heran, metode pengobatan macam apa ini? Pasti ini magic!

Kepala Kapten terbungkus kolor merah metalik.

“Sekarang saya minta semuanya untuk berjoged.”

“Joged?”
“Kok joged?”
“Ini serius?”
“Kenapa joged?”
“Kenapa bukan berdoa?”
“Atau baca mantera.”
“Atau baca Kho-Ping Ho.”

“Ini syarat kedua! Kalian harus menurutinya!” Supri meledak dalam amarah. Amarah palsu. Dalam hati dia menikmati drama itu.

“Baik baik.”
“Joged apa?”
“Jangan yang aneh-aneh.”
“Joged india boleh deh.”
“Goyang dumang aja.”
“Goyang inul! Enerjik!”
“Uh, susah. Goyang dribble aja.”
“Astaghfirullah..”
“Itu terlalu vulgar.”
“Istighfar kamu, itu goyang terlarang.”
“Harom itu.”
“Iya, sudah dicekal yutub.”
“Dicekal fesbuk juga.”
“Detik juga.”

Supri mendelik. Semua diam.

“Kalian harus joged cesar sambil nyanyi lagunya.”

“Waduh goyang cesar..”
“Bisa gak?”
“Susah..”
“Siapa yang bisa?”
“SAYA BISA!” Hendrikus maju. Untuk beberapa saat ada keheningan yang awkward.
“Ayo semuanya ikut gerakan saya, cepat.”

Dengan penuh semangat, Hendrikus memimpin semua orang berjoged cesar sambil bernyanyi lantang.

“Hei kenapa kamu kalo nonton dangdut sukanya bilang, BUKA TITIT JOSS!”

“Buka titit?”
“Hah buka titit?”
“Kayaknya salah deh liriknya..”
“Iya, bukannya BUKA SILIT ya?”
“Silit?”
“Aku sih dengernya PITHIK.”
“Buka pithik?”

Saat semuanya masih berdebat soal lirik yang benar, Kapten pelan-pelan membuka matanya dengan lemah. Supri membantu Kapten bangun dan mendudukkannya di pojok ruangan.

“EH KAPTEN SUDAH HIDUP LAGI!”
“AAAAA KAPTEEENNN…!”

Semua ABK dan Juru Masak menghambur menyambut Kapten yang sudah mendapatkan kembali kesadarannya. Supri menyimpan kembali kolor merahnya lalu mundur, memberikan kesempatan pada Kapten untuk hore-hore dengan anak buahnya. Hendrikus menyaksikan semua itu dari jauh. Dia tertarik dengan kolor merah Supri.

***

Kapal kembali melanjutkan perjalanan menuju camp pertama untuk bermalam. Supri mengunjungi Kapten di ruang kemudi, penasaran dengan cerita sebenarnya bagaimana bisa darah menyembur dari mulut kapten sebanyak itu.

“Tidak tahu. Aku sama sekali tidak tahu. Tiba-tiba perutku rasanya bergejolak, lalu jadi mual dan ingin muntah. Setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.”
“Mungkin kapten salah makan, atau salah minum?”
“Hmm.. Seingatku tidak ada yang aneh dengan makanan dan minumanku. Tadi pagi aku sarapan nasi goreng, siang nasi rendang. Minumnya hanya kopi dan air putih.”
“Itu saja?”
“Ya, itu saja.”
“Rendangnya rendang apa?”
“Aku kurang tahu. Rasanya bukan sapi atau ayam sih. Juru Masak mungkin tahu.”

Supri belum bisa menarik kesimpulan apa yang terjadi. Dia bermaksud untuk bertanya pada Juru Masak, tapi kapal sudah terlanjur tiba di camp untuk bermalam. Semua orang terlihat sibuk, termasuk Juru Masak yang sedang menyiapkan makan malam.

Tanpa ada yang memperhatikan, sesosok manusia bergegas turun dari kapal lalu menghilang ke dalam hutan.

[Bersambung]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s