Supri dan Kolor Ajaib Part 14

Kapal itu terbuat dari kayu. Kapal klotok namanya. Tidak besar, tidak juga kecil. Di lambung kapal tertulis besar-besar “EXPLORE RIVER SEKONYER,” persis di bawah tulisan besar itu ada tulisan yang lebih kecil berwarna merah menyala, “Ber-217-an.” Wuih, Supri tidak menyangka kapal berukuran sedang itu bisa dimuati 217 orang. Luar biasa.

Dek bagian bawah berfungsi sebagai tempat tinggal Anak Buah Kapal, termasuk Kapten dan Juru Masak. Di dalamnya ada gudang kecil tempat menyimpan seluruh bahan makanan untuk perjalanan selama seminggu. Beras, sayur-sayuran, buah-buahan, berbagai macam ikan dan ayam beku bercampur menjadi satu dan menimbulkan bau yang kurang sedap. Tapi itu bukan masalah bagi Supri, karena hidungnya sudah kehilangan fungsi sebagai indera penciuman.

“Hidung yang mandul,” ledek Gadjah Mada dalam salah satu pertemuan mereka. “Coba deh konsultasi ke On-Clinic,” sambung Gadjah Mada lagi sambil terpingkal-pingkal. Supri tidak pernah menanggapi ledekan itu, karena bagi dia kehilangan indera penciuman justru banyak memberikan manfaat positif baginya. “Itu hidung atau Fernando Torres, mwahahahahaha hahahaha haha.. ha.. ups.” Tawa Gadjah Mada mendadak terhenti setelah Supri menatapnya dengan tatapan Rangga AADC. Gadjah Mada lupa Supri sangat memuja Jose Torres. Jose adalah ayahnya Fernando. Entah kenapa Supri mengidolakan beliau.

Supri naik ke dek atas, dek khusus untuk para turis penyewa kapal. Beberapa turis lain sudah lebih dulu ada di sana. Tempatnya lega, cukup untuk menggelar 4 kasur berukuran standar kamar kost. Di ujung dek ada dua kursi santai dari kayu yang bisa direbahkan. Seorang pria berkulit gelap duduk di sana. Dia mengenakan kaos buntung dan celana pendek berkantong banyak. Kumisnya tebal, matanya tertutup kacamata hitam bermerk Ovaley. Dari pengamatan sekilas Supri, sudah bisa ditebak, pria itu pasti bernama Hendrikus. Supri duduk di sampingnya.

“Abang pasti bernama Hendrikus,” sapa Supri. Si abang menatap Supri dengan heran.
“Dari mana kamu tahu nama saya?”
“Kan sudah ditulis di atas, dari pengamatan sekilas saya.”
“Oh iya bener hahaha… Saya rasa ciri-ciri saya sangat Hendrikus.”
“Betul bang,” jawab Supri sambil tersenyum manis. Dia lalu duduk di samping Hendrikus.

Seluruh penumpang sudah naik, kapal pun bergerak perlahan meninggalkan dermaga Tanjung Puting. Supri sangat antusias dengan perjalanan ini. Untuk pertama kalinya dia akan melihat Orang Utan langsung di habitat alaminya, spesies yang selama ini hanya dilihatnya di majalah Gadis.

Matahari mulai berganti warna kemerahan, membuat sungai Sekonyer berkilap-kilap memantulkan cahaya senja. Sungai yang tadinya sangat lebar mulai menyempit. Kapten menambah kecepatannya agar kapal tiba di pemberhentian untuk bermalam sebelum sinar matahari benar-benar hilang. Supri mengambil sarung sholatnya untuk menahan terpaan angin.

“Wuih, itu asli ya mas?” tanya Hendrikus melihat sarung Supri yang ada logo The North Face-nya.
“Iya asli dong.”
“Saya baru tahu kalo North Face ngeluarin sarung kayak gini. Ckckck..” Hendrikus meraba tekstur sarung Supri dengan kagum.
“Ini memang produk terbaru mereka. Lihat jahitannya, sangat rapi kan? Bahannya juga terbuat dari bahan rip-stop jadi nggak gampang sobek.”
“VVAVV…”
“Dan yang paling inovatif dari sarung ini, dia punya saku men! Cool kan? Sekarang kita bisa membawa uang sedekah ke masjid tanpa perlu diselip di kantong celana dalam lagi.”
“Emang celana dalam mas ada kantongnya?”
“Lha.. Kemana aja? Kalo nggak ada kantongnya, terus gimana caranya kita nyimpen flash disk atau remote AC?”
“YA AMPUN BETUL JUGA YA! Saya benar-benar ketinggalan jaman, ahahaha ahahaha…”

Supri tersenyum simpul, lalu melepas pandangan ke arah hutan yang sudah mulai gelap. Ratusan titik cahaya berwarna hijau beterbangan di pinggir sungai. Sepasang turis bule terpukau melihatnya, mereka terus berdecak kagum sambil berusaha memotret fenomena ajaib itu dengan kamera sakunya. Setiap kali mereka melihat LCD, terdengar nada penuh kekecewaan karena foto yang dihasilkan tidak sesuai harapan.

“Asu, kok dadine elek yo?” gerutu turis A.
“Lha kamerane elek og!” jawab turis B, menyalahkan pilihan suaminya terhadap kamera pilihannya. Mereka membelinya dua hari lalu saat baru tiba di Jakarta setelah menempuh perjalanan udara berjam-jam dari Perancis.
“Kan kemarin udah tak bilangin, beli Fuji X100s, kalo kurang yakin baca dulu aja blognya mas Regy pasti berubah pikiran.”
“GIMANA MAU BACA REVIEW DI BLOGNYA MAS REGY DUA HARI LALU KALO DIA BARU POSTING SEMALAM?”

Supri sama sekali tidak mengerti bahasa Perancis, karena itu dia diam saja, apalagi mereka terdengar seperti sedang bertengkar. Dia masih asyik memperhatikan atraksi kunang-kunang, ketika tiba-tiba Juru Masak datang membawa makan malam. Nasi putih panas, ikan bakar, sayur tumis, tahu goreng, telur dadar, dan berbagai macam buah-buahan segera menghias meja makan di dek atas. Saat semua sudah siap menyantap makan malam, terdengar teriakan yang sangat mengerikan dari ruang kemudi!

“AAAAAAAKKKK…!!!”

Semua penumpang kapal heboh. Supri, Hendrikus, dan dua orang ABK segera turun ke ruang kemudi tempat suara mengerikan tadi berasal. Gelap. Lampu di dalam ruangan Kapten itu tidak menyala.

“Pintunya dikunci!” ujar salah seorang ABK panik.

“KAPTEN! KAPTEN!” ABK lainnya berteriak sambil menggedor-gedor pintu. Supri mengintip dari kaca depan, tapi dia tidak melihat apa-apa. Kaca itu seperti diolesi cairan hitam pekat, bukan, bukan hitam, tapi… merah!

“Ada yang punya senter?” tanya Supri kepada orang-orang yang sudah datang berkerumun. Si bule Perancis memberikan senter kecilnya. Supri menyalakannya, lalu mengarahkan senternya ke ruang kemudi. Perutnya mual seketika.

Darah menutup seluruh kaca depan ruang kemudi. Di dalamnya terlihat sesosok tubuh terkapar bersimbah darah di lantai, tak bergerak!

“I… Itu… Itu Kapten….” kata Juru Masak dengan gemetar, lalu pingsan detik berikutnya.

(Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s