Supri dan Kolor Ajaib Part 17

Supri dan Kolor Ajaib Part 17

Reman. Namanya terdengar familiar. Supri mengingat-ingat masa lalunya, mencoba mencari dari mana datangnya familiaritas nama Reman tersebut. (((FAMILIARITAS))) “Reman ini… Biasa dipanggil Pak Reman?” tanya Supri pada Hendrikus. “Yhaa betul! Orang-orang menyebutnya Pareman. Kok, tahu?” “Saya dulu sempat merasakan kerasnya kehidupan di jalanan Jakarta. Nama itu adalah urban legend.” “Urban legend?” “Yap. Legenda yang datang … Continue reading

Supri dan Kolor Ajaib Part 16

Supri dan Kolor Ajaib Part 16

Kabut tebal menutupi permukaan sungai dan sekeliling hutan Camp pertama. Air sungai berwarna kecoklatan mengalir tenang, tanpa membuat kapal-kapal yang sedang sandar di dermaga jadi bergoyang. Supri menikmati suasana pagi itu dari atap kapal sambil menyeruput kopinya yang masih mendidih. Setiap seruput bibirnya melepuh, lalu dilap dengan kolor. Sembuh lagi. Seruput lagi. Melepuh lagi. Sembuh … Continue reading

Supri dan Kolor Ajaib Part 15

Supri dan Kolor Ajaib Part 15

Dengan sekuat tenaga Hendrikus yang datang belakangan mendobrak pintu ruang kemudi. BRAKKK!!! Pintu hancur berantakan. Hendrikus masuk lebih dulu, lalu meraba denyut nadi pergelangan tangan Kapten. “Nihil! Tidak ada denyut nadi!” Semua orang semakin panik. Hendrikus memeriksa seluruh bagian tubuh Kapten untuk mencari tahu penyebab kematiannya. “Tidak ada luka sama sekali! Semua darah keluar dari … Continue reading

Supri dan Kolor Ajaib Part 14

Supri dan Kolor Ajaib Part 14

Kapal itu terbuat dari kayu. Kapal klotok namanya. Tidak besar, tidak juga kecil. Di lambung kapal tertulis besar-besar “EXPLORE RIVER SEKONYER,” persis di bawah tulisan besar itu ada tulisan yang lebih kecil berwarna merah menyala, “Ber-217-an.” Wuih, Supri tidak menyangka kapal berukuran sedang itu bisa dimuati 217 orang. Luar biasa. Dek bagian bawah berfungsi sebagai … Continue reading

Supri dan Kolor Ajaib Part 13 oleh @regycleva

Supri dan Kolor Ajaib Part 13 oleh @regycleva

Supri merebahkan diri diatas lantai. Sejak kecil dia memang tidak terbiasa tidur di ranjang. “Aku gak suka terlalu nyaman, bangunnya susah. Kenyamanan itu berbahaya,” katanya suatu ketika kepada Mamang, padahal Mamang gak nanya. Barang-barangnya sudah tertata rapi di dalam ransel. Dia hanya membawa 1 ransel berisi beberapa pasang baju, kolor ajaibnya, alat mandi, dan TTS … Continue reading